Search

Peningkatan Kualitas Antenatal Care dengan Manajemen Terpadu Rumah Sakit

Jawa timur merupakan salah satu provinsi dengan angka kematian ibu tertinggi di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu hamil. Salah satu cara untuk menurunkan AKI (angka kematian ibu) dan meningkatkan pelayanan ibu adalah melalui peningkatan kualitas ANC (antenatal care: pemeriksaan antenatal/kehamilan) , khususnya di Rumah Sakit. Dalam penelitian Muhammad Ardian C.L., (2020) mencoba menganalisis kualitas pelayanan antenatal care dengan menggunakan European Foundation Quality for Management (EFQM) di Rumah Sakit Surabaya.

Menurut EFQM Sistem antenatal care yang berkualitas dapat dilihat dari bagaimana rumah sakit tersebut melakukan pelayanan kepada pasiennya. Bagaimana suatu rumah sakit melakukan Perencanaan yang dan manajemen yang tersistematis, Inovasi dan bagaimana implementasi pada pelaksanaannya, Mengembangkan pelayanan berdasarkan kebutuhan pasien, pelayanan yang berdasarkan kepada pasien, dan yang terakhir adalah membangun dan merawat hubungan yang baik dengan pasien. Hal tersebut tidak hanya membantu fasilitas kesehatan memperbaiki layanan antenatal care nya. Namun juga seluruh layanan kesehatan yang diberikan.

Aspek Penilaian Kualitas Manajemen ANC berdasar metode EFQM terdiri dari empat aspek yaitu: perencanaan dan managemen, implementasi berbasis inovasi, Pengembangan produk berbasi kebutuhan pasien, pelayanan yang berfokus pada pasien. Dalam Strategi perencanaan antenatal care perlu dilakukan persiapan yang tersistematis dari hulu ke hilir agar dalam proses pelaksanaannya tidak terhambat. Perencanaan yang sistematis dimulai dengan pemetaan target yang ingin dicapai dan obstacle yang dapat menghambat dalam proses pelaksanaannya.

Implementasi berbasis inovasi yaitu dalam pelaksanaan ANC, Inovasi dan pengembangan memegang peran penting dalam faktor internal. Inovasi pengembangan dapat berupa usulan strategi evaluasi layanan baru, peningkatan indikator kualitas ANC, Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), penataan dokumen administrasi, dan inovasi lainnya dengan tujuan untuk mendukung kualitas dan efisiensi dari Layanan ANC.

Tujuan dari penilaian kebutuhan (need) dan harapan (expectation) pasien adalah untuk mengamati seberapa jauh gap diantara keduanya. Tidak adanya gap antara kebutuhan dan harapan berarti kepuasan pasien yang optimal. Setiap rumah sakit dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan dari seluruh pasiennya dengan meningkatkan pelayanan guna meningkatkan kepuasan pasien. Oleh karena itu, pihak rumah sakit perlu cermat dalam menentukan kebutuhan pasien sebagai cara untuk memenuhi harapannya dan meningkatkan kepuasan atas pelayanan yang telah diberikan. Pada prinsipnya kepuasan pasien merupakan strategi jangka panjang yang membutuhkan komitmen untuk keberlangsungan suatu rumah sakit dalam menjalankan tugasnya.

Rumah Sakit tidak hanya dituntut menyediakan pelayanan medis terbaik. Rumah sakit juga harus mengutamakan terbinanya hubungan baik dengan pasien. Dengan terbinanya hubungan baik dengan pasien tingkat kepercayaan dan kontrol pasien akan meningkat. Di era teknologi ini membangun relasi yang baik bisa menjadi lebih mudah. Fasilitas kesehatan dapat memanfaatk teknologi yang ada untuk berhubungan dengan pasien bila dari pasien ada yang ingin ditanyakan atau dikeluhkan. Hubungan baik ini dapat dibangun dimulai dengan hal-hal kecil seperti keramahan tenaga kesehatan, antrian yang teratur, hingga dokter yang datang tepat waktu.

Hasil penelitian menunjukkan dari tiga rumah sakit tipe B yang diteliti, dua rumah sakit merupakan rumah sakit swasta dengan skor 56 dan 64. Dan satu sisanya merupakan rumah sakit pemerintah dengan skor 39. Skor lebih tinggi didapat dari rumah sakit swasta, sedangkan pada rumah sakit pemerintah skor EFQM lebih rendah. Hal ini menunjukkan perlunya inovasi dan perubahan dalam manajemen rumah sakit milik pemerintah. Karena kebanyakan masyarakat Indonesia akan memilih rumah sakit pemerintah. Dengan melakukan strategi yang telah disampaikan diatas, diharapkan rumah sakit dapat memperbaiki kinerja pelayanan dan meningkatkan hubungan yang baik dengan pasien.

Manajemen rumah sakit perlu melakukan evaluasi internal secara rutin terkait pelayanan kesehatan di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Apabila dari hasi evaluasi akan didapatkan permasalahan. Manajamen Rumah Sakit dapat melakukan pelatihan berkala mengai pelayanan ANC bagi seluruh staf. Pelatihan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan staf tentang layanan sesuai dengan perkembangan saat ini sehingga dapat diterapkan pada saat memberikan layanan terbaik. Hasil evaluasi berikutnya dapat dijadikan sebagai indikator pencapaian hasil pelatihan.

Penulis: Muhammad Ardian Cahya Laksana, Farouk Ilmid Davik

Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:






2 views0 comments

Recent Posts

See All